Kubiarkan jariku menari dan merangkai nada-nada hati lewat bait-bait huruf itu...

Karena kutahu....meskipun susunan huruf itu tak bersuara...namun ia ahli dalam bercerita....

 

Semoga perjalanan hati kita sampai pada tujuannya dengan selamat… :)

Semoga perjalanan hati kita sampai pada tujuannya dengan selamat… :)

Semoga waktu tidak bermain-main dengan hati kita…karena aku tak pernah main-main saat memutuskan untuk bertemu hatimu.

Semoga waktu tidak bermain-main dengan hati kita…karena aku tak pernah main-main saat memutuskan untuk bertemu hatimu.

When You Love Someone - Endah N Rhesa (Music Clip) (by younameitprods)

When You Love Someone

I love you but it’s not so easy to make you here with me
I wanna touch and hold you forever but you’re still in my dream
And I can’t stand to wait your love is coming to my life
But I still have a time to break a silence

When you love someone just be brave to say
That you want him to be with you
When you hold your love don’t ever let him go
Or you will loose your chance to make your dream come true

I used to hide and watch you from a distance
And I knew you realized
I was looking for a time to get closer

:)

Aku tahu dia tak sempurna. Tapi bagaimanapun…Tuhan sudah mengirimkannya untuk membuat kebahagiaanku sempurna #terimakasih untuk cinta dari orang yang tak pernah kuinginkan dan kudoakan sebelumnya. Akhirnya setelah sekian lama…aku jatuh cinta (lagi) juga :D.

Life Stories ( Cerita…cerita kisah)

Sejauh ini hidupku telah mengarungi banyak halaman cerita rumit

Aku membaca, menelusuri dan ikut terlibat dalam banyak cerita.

Ada kisahku, ada kisah kau, ada kisah dia, ada kisah kita, ada kisah kalian dan ada kisah mereka.

Tak jarang aku mengalami kesulitan untuk memahami kisah-kisah yang kadangkala harus kubaca berkali-kali.

Apalagi kalau peran utama sudah jatuh padaku.

Mau tak mau, aku harus berusaha mengerti , walau kadang berpura-pura mengerti dan sampai akhirnya aku bisa benar-benar memahami artinya dengan baik.

Kemudian…sambil menikmati secangkir teh hangat

Aku mulai menelusuri halaman berikutnya.

Banyak cerita berbeda yang aku jumpai di sana.

Kompleksitas hidup yang akhirnya dikawinkan dengan pola pikirku.

Cita, cinta….masalah…orang-orang yang mengecewakan dan Tuhan.

Pernah satu kali aku berulang-ulang menelusuri sebuah cerita berkali-kali. Cerita tentang Tuhan. Bukan karena aku tak mengerti, walau sebenarnya aku belum mengerti. Tapi…memang karena aku suka terlibat di dalamnya berkali-kali.

Entah apa, entah kenapa dan harus bagaimana.

Saat aku membuka cerita tentang Tuhan, aku menemukan kembali kisah yang telah kubaca sebelumnya.

Yang kutahu, semua cerita ada dalam cerita tentang Tuhan.

Tapi bedanya. Tuhan yang bercerita tentang kisah-kisah itu di sana. Dan Tuhan menceritakannya dengan “sudut pandang” yang jauh berbeda dengan kisah yang sama sebelumnya.

Saat aku menelusurinya., aku mulai belajar caraNya.

Bahwa memahami dan tahu arti kisah saja tak cukup. Kau harus menikmati bagaimana sebuah cerita berjalan. Dengan demikian kau tak perlu bingung hanya karena sekedar tak cukup  pengertian. Kau hanya membutuhkan hati yang siap untuk berjalan bersama Tuhan untuk menelusuri kisah berikutnya.

Dengan demikian…aku tak lagi menelusuri kisah berikutnya sendirian. Aku ingin berjalan dengan Tuhan.

“Kemanapun hidup membawamu…Tuhan ada di sana”

 

Sepercik tentang hidup

Malam itu aku duduk dalam temaram

Memandang bintang dalam hati yang kelam

Lama aku tak berbincang dengan bintang

Setelah aku menghabiskan jutaan malam untuk melanglang

Akhirnya malam ini menjadi tempat jiwaku beristirahat

Kupandangi wajah si bintang sejenak

Dia tersenyum

Dia tahu…jika aku duduk diam seperti ini pasti ada sesuatu yang ingin kuberitahu.

Aku mulai berbicara….

Bintang, kau tau kan aku berulang kali patah sayap…

Sayapnya tumbuh lagi…

Dan aku terbang lagi…

Dan beberapa waktu yang lalu patah lagi…

Dan kini tumbuh sedikit lagi…

Kau tau kan…kalau sayapku patah sakitnya luar biasa?

Mataku mulai berkaca-kaca…

Sayapku baru saja tumbuh…

Dan aku…aku takut kalau sayap ini patah lagi.

Karena rasanya sakit sekali…

Si bintang menghela napas… memegang pundakku sejenak.

“Kamu tau”…katanya.

“Saat sayapmu patah…Tuhan selalu membuatnya tumbuh lagi…dan saat setiap kali sayapmu berganti…kamu bisa terbang lebih tinggi lagi.”

Dan si bintang tersenyum lagi…lalu dia pergi tanpa permisi.

My heart already caught by him succesfully

My heart already caught by him succesfully

She’ll gonna marry

Sahabat terbaik saya itu berbisik “Juli tahun depan” ucapnya tepat di telinga saya. Saya tersenyum. Tersenyum dipaksa tepatnya. Saya tak tahu bagaimana perasaan saya. Sejenak saya terhenyak. Membayangkan bahwa saya akan kehilangan waktu terbaik bersama sahabat saya itu dalam hitungan bulan. Kami mungkin takkan bisa belanja bersama setiap bulan. Kami tak lagi bisa berkumpul di kafe favorit setiap akhir pekan. Ketika saya meneleponnya, dia mungkin tak lagi bisa berjam-jam bercerita, dan saya tak lagi membutuhkan banyak waktu untuk mendengarkan ceritanya. Saya tak lagi bisa mengomentari untuk laki-laki yang sedang dekat dengannya. Saya tak lagi bisa mengatur kostum pesta yang akan dipakainya. Mungkin nanti…dia harus mengurus suaminya berangkat kerja, sibuk membantu tugas sekolah anak-ananknya atau mungkin menjadi asisten pribadi mertuanya yang sedang berbelanja. Mau tak mau…meski tak rela saya harus melepasnya. Sama seperti dia melepas masa lajangnya. Melepas masa-masa indah Kekonyolan dan tingkah aneh gadis-gadis muda yang pernah kami lakukan bersama. Tertawa sekeras yang kami suka. Tebar pesona semaunya pada siapa saja. Berbagi cerita tanpa kenal waktu. Menangis sejadi-jadinya tanpa harus merasa malu. Semua akan berbeda Saat dia memilih memutuskan garis kesendirian dalam hidupnya dan menyambungnya dengan seorang pria yang dicintainya. Yang siap berbagi hidup dengannya Dan saya tahu dia berbahagaia. Bahagia dengan pilihannya Dan sebagai sahabat terbaiknya… Meski kehilangan…saya harus turut berbahagia.

AS SIMPLE AS KOPI TUBRUK

Satu kali salah satu klien kami memesan kopi tubruk kepada OB di studio, saat kami melakukan recording untuk salah satu TVC. Saya sempat berpikir, hari gini ‘masih ada” orang suka kopi tubruk. Dia memesan kopi tubruk panas tanpa tambahan apa-apa. Tak dengan gula atau creamer. Murni, kopi tubruk hitam. “Cobain dikit deh mbak etha.” katanya sambil menyodorkan cangkirnya pada saya. Saya cicip dengan sendok kecil. Wah, rasanya sudah lama saya tak mencicipi rasa sesederhana ini. Rasanya ringan, kopinya terasa lebih encer dari kopi instan yang saya minum setiap hari. Tadinya saya sempat berpikir untuk memesan kopi di Gerai Kopi sekitar studio. Yah, biasalah standar kopi bermacam rasa dan sajian dari Negara antah berantah sana. Tapi thanks God, si klien ini ternyata orang yang simpel dan nggak macem-macem. Akhirnya saya ikut-ikutan memesan kopi tubruk, yang memang ‘kebetulabn’ tersedia karena saat itu si OB baru pulang kampung dan itu sisa ‘stok’ dari kampung dan seharusnya untuk konsumsi si OB sendiri. Saya menikmatinya, menghirup baunya dalam-dalam sambil sesekali menutup mata. Saya jadi ingat, dulu waktu saya jalan ke satu kampung, kami pernah disuguhi gratis oleh penduduk setempat kopi tubruk jenis ini. Well, entah apa nama kopinya. Tak penting buat saya. Yang jelas, rasanya jauh lebih sederhana dari kopi berbagai merk yg pernah saya coba. Saya bukan pengamat kopi. Saya penikmat. Hahaha. Rasanya saya lupa dengan frapucino mint yang pernah mengecewakan saya. Saya hampir tak ingat dengan mochacino yang seharusnya bertanggungjawab atas naiknya berat badan saya. Dan Vanila Latte yang mendadak kalah rasa dari si kopi tubruk. Well, tak ubahnya dengan hidup. Kadangkala, sesuatu yang layak dinikmati itu tak harus se-indah, se-mahal dan se-rumit “teori”. Cara pikir sederhana, cara bertindak cepat dan simpel akan lebih efektif dalam hidup ini. Adakalanya fase jenuh terhadap hal-hal yang terlalu banyak macamnya membuat saya ingin lari di satu jalur yang membuat saya bisa meng-istirahatkan pikiran dan jiwa dengan hal-hal sederhana yang nggak harus berbau “tren” atau “lifestyle dari majalah wanita terkini”. Saya hanya perlu sesuatu yang simpel dan sederhana. Yang mungkin bisa saya dapatkan dari sesuatu yang tak harus didapat dengan sekelumit kolaborasi modernisasi. Itu kenapa akhirnya saya meminta sedikit bubuk kopi dan teh tubruk dari si OB, untuk dibawa pulang. Buat jaga-jaga, kalau-kalau sesekali saya perlu mengistirahatkan jiwa saya saya dengan kesederhanaan 